alat musik dari flores

Hay teman-teman semoga kalian dalam keadaan sehat, Saat ini ane mau membagikan informasi tentang alat musik dari flores lengkap dengan gambar beserta isinya. Sebelum loncat kepada pembahasan alat musik dari flores ada baiknya kita tengok dulu tentang alat musik dari flores tersebut.
alat musik dari flores memang sedang banyak diperbincangkan saat ini, Apalagi alat musik dari flores yang akan ane share ini sangat lengkap dengan informasi selengkapnya. Dijaman modern ini sudah banyak teknologi yang super canggih, mulai dari Smartphone yang kalian punyai sudah bisa melakukan apa saja di tangan yang agan pegang tersebut. Mau itu mencari peta,tutorial,tanaman semuanya ada di Smartphone kalian.
Artikel kali ini juga adalah bagian dari pembahasan yang sudah hits di dunia internet yang kamu pegang. Tentunya informasi yang akan aku bagikan sangat berbeda dari web yang lainnya, Sangat cetar membahana dan terpercaya.
Baiklah tidak perlu lama lagi, langsung saja ke intinya, Inilah informasi alat musik dari flores lengkap dengan isinya.

Disebuah kampung kecil di lembah Jerebu’u, Tololela, yang termasuk dalam wilayah Desa Manubhara, Kabupaten Ngada bersama-sama dengan desa lain telah menginisiasi revitalisasi salah satu alat musik lokal yang terbuat dari bambu, yaitu Bombardom, alat musik tradisional asli Flores yang mulai jarang dipakai karena tergantikan oleh alat musik modern. Alat musik Bombardom terdiri dari dua elemen yaitu bambu besar dan bambu kecil untuk meniupkan udara ke bambu besar dan bambu kecil untuk meniupkan udara ke bambu besar. Alat musik ini ditiup secara bergantian antara dua nada yang berbeda. Bombardom biasanya mengiringi alat musik bambu lainnya seperti seruling dari Foi Doa (seruling ganda) khas Ngadha dan dimainkan untuk pesta adat atau penerimaan tamu. Alat Musik Bombardom (Foto: Markus Makur / Kompas.com)
Konser musik tradisional Bombardom menciptakan Rekor Dunia MURI yang diselenggarakan pada 19 September 2015 di kampung adat Tololela, desa Manubhara, kecamatan Inerie, kawasan Wisata Lembah Jerebu'u, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Konser ini merupakan prakarsa warga kampung Tololela, Pemerintah Desa Manubhara, Dinas Perhubungan Pariwisata, Komunikasi dan Informatika (P2KI) Kabupaten Ngada, untuk membangkitkan lagi semangat masyarakat Jerebu'u untuk melestarikan alat musik tradisional ini. Manajer MURI, Jusuf Ngadri didampingi Randy khusus datang untuk menyaksikan pergelaran Rekor Dunia bersejarah di pulau Flores tersebut. Tidak kurang dari 510 warga kampung Tololela meniup 510 alat musik Bombardom diiringi ansembel seruling bambu mempergelar lagu kebangsaan Indonesia Raya. Jaya Suprana, Pendiri MURI seperti dikutip dari kaskus.co.id mengatakan bahwa penciptaan Rekor Dunia di pelataran rumah adat kampung Tololela tersebut memiliki makna ganda, pertama sebagai daya tarik pariwisata untuk berkunjung ke kawasan wisata Lembah Jerebu'u. Kemudian penciptaan Rekor Dunia di kampung Tololela juga merupakan upaya melestarikan alat musik Bombardom sebagai karsa dan karya kebudayaan Nusantara. Memang dalam kemahakaryaan perbendaharaan karsa dan karya kebudayaan, Indonesia tidak ada tandingannya di marcapada ini.
Berkeliling ke Pulau Flores bukan hanya menikmati keindahan alamnya, pantainya, panoramanya, gunungnya, danaunya. Tapi, berwisata juga untuk menikmati keunikan musik-musik tradisionalnya. Pulau Flores juga terkenal dengan keunikan-keunikan musik tradisionalnya. Pulau ini memang masih menyimpan berbagai musik tradisional. Alat musik tradisional itu terbuat dari bambu, dari kulit kambing, kulit kerbau. Seperti di Kampung Wajo, Kabupaten Nagekeo, ada musik Ndoto sedangkan di wilayah Manggarai Raya, Flores Barat ada Mbata. Mbata adalah musik tradisional yang mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukur kepada sang "Mori Keraeng" (Tuhan Pencipta), kepada alam dan leluhur. Orang Manggarai menyebut Sang Pencipta dengan sebutan "Mori Jari Agu Dedek". Artinya melalui tangan Tuhan mencipta manusia dan alam semesta. Musik Mbata ini biasanya dilaksanakan pada malam hari saat upacara Penti, syukur panen pada akhir tahun. Orang Manggarai Raya memiliki warisan leluhur yang terus dilaksanakan setiap tahun. Warisan itu adalah ritual penti, syukur panen tahunan. Bahkan, musik ini dilaksanakan semalam suntuk di dalam rumah adat gendang. Kaum perempuan dan laki-laki dengan lirikan dan nyanyian ungkapan syukur bersama kegembiraan diiringi tabuhan gendang dan gong. Lantunan lagu-lagu daerah yang mengungkapkan rasa syukur atas berkat dari Sang Pencipta dan perlindungan dari leluhur terhadap hasil panen padi, jagung dan berbagai hasil bumi lainnya. Masing-masing suku dan sub suku di wilayah Manggarai Timur, Manggarai Barat dan Manggarai melaksanakan upacara Penti dengan cara berbeda-beda. Ada yang dilaksanakan pada akhir Desember jelang tahun baru. Ada juga yang melaksanakan pada bulan Juli dan Agustus setiap tahun. Upacara Penti harus dilaksanakan setiap tahun oleh warga di satu kampung dari berbagai Suku dan sub suku. Namun, pada upacara Penti itu musik yang dibawakan adalah Mbata. Mbata, Sanda dan Danding merupakan olah vokal secara alamiah dalam diri orang Manggarai Raya. Selain itu, musik tradisional ini merupakan permainan kata-kata dalam bentuk lagu daerah yang dinyanyikan oleh kaum laki-laki dan perempuan serta anak-anak yang berisi syair kehidupan, syair tentang kasih sayang, persahabatan, perjuangan hidup dan nasihat. Sanda dinyanyikan sambil berdiri membentuk lingkaran dengan gerak berputar dan sesekali disertai dengan hentakan kaki seirama. Mbata dinyanyikan sambil duduk dalam lingkaran atau membentuk barisan. Mbata dinyanyikan dengan diiringi pukulan gong dan gendang yang lembut. Pemain gendang dan gong bisa berada di dalam lingkaran maupun berada di luar lingkaran sambil menabuh dan memukul gong dipadukan dengan nyanyian-nyanyian yang sesuaide ngan nyanyian di dalam lingkaran. Musik Mbata merupakan warisan nenek moyang masyarakat Manggarai Raya yang terus dipentaskan dalam berbagai upacara adat dan upacara-upacara yang diselenggarakan oleh pemerintah. Bagi wisatawan yang memiliki minat khusus saat berkunjung ke Pulau Flores dan ingin merasakan dan menyaksikan sendiri musik Mbata maka bisa berkunjung pada bulan Juli-Agustus atau pada akhir tahun dan juga pada Upacara 17 Agustus dan Hari Pendidikan Nasional. Seperti tahun ini, peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2015 dipentaskan musik Mbata dari siswa dan siswi Sekolah Menengah Kejuruan Kota Komba, Kecamatan Kota Komba serta siswa dan siswi dari Sekolah Dasar Katolik Sita di Kecamatan Ranamese. Apa keunikan usik Mbata ini? Kita yang menyaksikan merdunya suara itu ikut larut dalam kesejukan lagu-lagu yang berdialek lokal dengan kekhasan masing-masing. Bahkan, kita juga ikut terlibat dalam lingkaran saat musik itu dipentaskan. Selain itu, pemain musik Mbata memakai pakaian adat khas Manggarai Raya seperti kain songke, baju putih dan memakai destar di kepala. Sementara kaum perempuan memakai kain songke, baju kebaya ditambah dengan selendang. Selama ini musik ini dipentaskan di tingkat kampung dan beberapa festival di tingkat kabupaten yang ada di Flores Barat. Dan juga dilaksanakan pada upacara-upacara adat seperti Penti, pentahbisan Imam dan beberapa upacara adat lainnya. Selain musik Mbata, ada juga musik tradisional yang disebut Danding. Musik Danding dinyanyikan secara berkelompok sambil berdiri dan bergerak mengitari lingkaran dan juga musik Sanda dinyanyikan tanpa diiringi dengan alat musik. Perempuan dan laki laki bisa bergabung dalam satu lingkaran asalkan tetap menjaga sopan santun. Sanda menari dalam bentuk lingkaran secara berdiri. Beriringan dengan entakan kaki ke kanan dan kiri sambil menyanyikan lagu-lagu berdialek lokal. Danding dipimpin oleh seorang yang disebut Nggejang yang berdiri di tengah lingkaran untuk mengatur irama gerakan, entakan kaki dan memulai sebuah syair dengan menggunakan gemerincing. Dibanding Sanda, Danding dinyanyikan dengan irama yang lebih cepat, lebih hidup dan bersemangat. Danding dinyanyikan tanpa diiringi alat musik seperti gong atau gendang. Pensiunan Guru di Manggarai Timur, Yoseph Geong saat berbincang-bincang dengan KompasTravel, Kamis (7/5/2015) menjelaskan, musik Mbata merupakan warisan leluhur masyarakat Manggarai raya yang selalu dibawakan pada upacara-upacara adat di rumah-rumah gendang. “Musik ini dibawakan pada upacara Penti di rumah gendang setiap tahun. Musik ini hanya dilaksanakan di rumah adat di kampung-kampung oleh berbagai suku dan subsuku dalam upacara Penti. Upacara Penti merupakan syukuran panen padi, jagung, baik padi ladang maupun di persawahan,” jelasnya. Menurut Yoseph, dalam lingkaran tanam dalam setahun di masyarakat di Manggarai Timur memiliki berbagai ritual-ritual adat yang harus dilakukan di kampung-kampung. Namun, akhir-akhir ini tidak semua ritual dilaksanakan. Namun, puncak dari seluruh ritual dalam masa tanam setahun kalender berlangsung ada pada Ritual Penti. “Berjalan dengan perkembangan waktu, musik Mbata dibawakan dalam berbagai upacara kenegaraan, seperti upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan Hari Pendidikan Nasional, upacara keagamaan. Namun, dengan giat perkembangan pariwisata di Pulau Flores, musik ini ditampilkan oleh generasi penerus di Manggarai Raya di sekolah-sekolah. Butuh promosi secara terus menerus yang melibatkan orang-orang lokal,” jelasnya. Kepala Unit Pelaksana Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Cabang Kota Komba, Remigius Gaut kepada KompasTravel, Sabtu (2/5/2015) lalu menjelaskan, peringatan Hari Pendidikan Nasional di Kecamatan Kota Komba dipentaskan berbagai musik-musik khas masyarakat di Manggarai Timur. Musik seperti Mbata, Sanda serta berbagai atraksi lainnya. “Peringatan Hardiknas ke 70 tahun ini dipusatkan di Waelengga, ibu kota Kecamatan Kota Komba dengan menampilkan berbagai atraksi-atraksi budaya yang dibawakan sendiri oleh siswa dan siswi dari berbagai sekolah mulai dari Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Pergelaran musik dan seni pada 2 Mei 2015 sangat menghibur warga masyarakat di Kota Komba,” jelasnya. Remigius menjelaskan, pertunjukan budaya akan terus digelar dalam berbagai acara lokal dan nasional di Manggarai Timur pada umumnya dan di Kota Komba pada khususnya. “Berbagai keunikan musik dan atraksi budaya harus dipentaskan dalam berbagai kegiatan, baik di lingkaran sekolah maupun di event-event tingkat kabupaten. Guru-guru teruslah giat untuk memberikan perhatian pada musik-musik khas di Manggarai Timur,” jelasnya. disadur dari KOMPAS

MAUMERE, KOMPAS.com- Jumat (3/5/2019), saya berkesempatan mengikuti upacara adat menyambut tamu yang datang mengikuti acara peresmian kantor Koperasi Kredit Pintu Air, Desa Ladogahara, Kecamatan Nita, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Alat musik tradisional Kabupaten Sikka ini sering digunakan ketika ada ritual adat. Tetapi seiring laju zaman, alat musik ini bisa dimainkan dalam acara atau lomba di daerah, bahkan sekarang hampir setiap acara seremonial pemerintahan di Sikka.































































































Bagaimana?, sesuai bukan artikelnya?. jika kamu ada pertanyaan tentang alat musik dari flores lebih dalam lagi, agan bisa tanya jawab di kolom komentar untuk memajukan lagi website saya ini yang baru tahap pemula. Semoga dengan adanya artikel alat musik dari flores tersebut, para abang dan nyonya permasalahannya bisa terselesaikan dan terhibur berkat adanya pembahasan ini.
Sekian dari aku, Semoga konten tentang alat musik dari flores tersebut bisa bermanfaat bagi agan semuanya. Akhir kata. Terimakasih untuk semuanya.
Posting Komentar untuk "alat musik dari flores"